Home > Perjalanan > Wisata Kuliner ke Manado

Wisata Kuliner ke Manado

Sebetulnya aku sedikit cemas saat berangkat ke Manado. Betapa tidak, aku terbang tanggal 3 Januari 2007, dua hari setelah pesawat Adam Air Jakarta – Manado hilang. Tetapi syukurlah perjalanan cukup lancar. Meskipun sepanjang perjalanan udara berawan, saat transit di Balikpapan dan akhirnya mendarat di Manado tidak ada masalah sedikit pun.

Aku bersama Pak Lowdy Paat ke Manado untuk memfasilitasi pelatihan anggaran teman-teman di Swara Parangpuan, sebuah organisasi non pemerintah yang selama ini aktif melakukan advokasi hak-hak perempuan. Aku sangat gembira bisa ke Manado. Bagiku, yang menarik di Manado adalah Bunaken dan makanannya. Tetapi kali ini aku akan mencoba berbagai macam masakan Manado yang terkenal lezat. Menurutku, ciri khas masakan Manado adalah keberanian koki memasukkan bermacam-macam bumbu, pedas dan biasanya tidak pakai santan.

Selama pelatihan berlangsung, bagiku setiap masakan yang disajikan adalah sebuah penjelajahan ke sebuah budaya yang unik. Masakan adalah bagian dari budaya Manado dan bagiku, makanan Manado tidak hanya unik tetapi luar biasa.

Setiap pagi, bubur Manado dihidangkan. Sebetulnya cara memasak dan bahan bubur Manado sederhana dan gampang. Beras dimasak menjadi bubur bersama segala macam sayuran. Pagi itu, sayuran yang turut dicampur adalah potongan daun kangkung, bayam dan jagung. Sebelumnya aku pernah makan bubur Manado, tetapi dicampur dengan buah labu kuning. Karena orang Manado suka pedas, bubur Manado disajikan bersama sambal terasi. Tidak hanya bubur, makan pisang goreng pun harus dengan sambal.

Kalau bubur Manado begini enak, bagaimana dengan bibir Manado ya? Teman-temanku suka bercanda, kalau ke Manado jangan hanya makan bubur, tetapi juga harus merasakan bibir Manado. Syukurlah, sampai aku kembali ke Jakarta tiada sempat kurasakan bibir Manado. Sumpah, aku jujur soal yang satu ini!

Makan siang, hotel tempat pelatihan menyajikan ikan goreng dengan sambal. Enak sekali rasanya. Ternyata setelah kutanya, ikan yang kumakan adalah mujahir. “Busyet, bagaimana mungkin mujahir terasa enak di sini”. Selama di Jakarta aku tidak terlalu suka ikan mujahir. Bukan karena banyak durinya. Mujahir kalau disajikan dalam keadaan dingin, terasa hambar seperti yang dijual warteg-warteg di Jakarta. Di Manado, mujahir yang dihidangkan ukurannya masih kecil dan digoreng kering lalu disajikan bersama sambal. Kriuk-kriuk….. enak dan pedas sekali.

***

Pelatihan usai, Pak Lowdy mengajakku ke Tomohon, berkunjung ke rumah El Paat, sepupunya. Lowdy Paat, demikian nama lengkapnya, dosen sebuah universitas negeri di Jakarta. Kelahiran Motoling, Minahasa, tetapi besar di Jakarta.

Kami menginap di rumah El Paat. Terletak di dataran tinggi di pinggiran Kota Tomohon. Rumah itu berada di tengah kebun dengan kolam ikan dan kandang babi di dekatnya. Sore itu suara babi terdengar riuh. Rupanya mereka sedang dimandikan dan merasa kedinginan. “Sehari mereka mandi dua kali, pagi dan sore sebelum makan. Habis mandi, mungkin karena kedinginan, mereka makan dengan lahap,” kata El Paat menjelaskan.

Malam pun tiba. El Paat mengajak kami makan di sebuah restoran sederhana di pinggir jalan raya Manado – Tomohon. Pertama kami coba Ragey. Ragey adalah sate daging babi. Satu tusuk berisi tiga potong daging babi, biasanya satu potong daging berlemak. Berbeda dengan sate yang kita kenal, Ragey disajikan tanpa bumbu kacang atau kecap. Rupanya, sebelum dibakar, daging babi sudah dibumbui terlebih dahulu.

Tidak lupa pula kami mencoba ca kangkung dan bunga pepaya. Walaupun menggunakan bunga pepaya jangan kuatir pahit. Aku tidak tahu bagaimana mereka memasaknya, tetapi ca kangkung bunga pepaya benar-benar enak.

Restoran itu juga menyajikan paniki. Paniki adalah masakan kelelawar yang dimasak dengan dengan kuah santan. Paniki agak unik, selain dimasak dengan santan, Paniki juga terasa manis. Terus bagaimana rasa daging kelelawar? Di lidahku rasanya seperti daging bebek. Tetapi karena dagingnya tipis agak susah membedakan teksturnya dengan daging bebek. Melihat daging berkulit hitam aku terbayang seperti Joker tengah menyantap Batman.

Brenebon tak ketinggalan disajikan. Sup kacang merah dengan daging babi itu cukup lezat menghangatkan badan dalam dekapan udara malam Tomohon yang dingin. Badanku makin terasa hangat setelah menyantap RW alias rica-rica doggy. Menurut Lowdy, RW adalah singkatan dari Rintek Wuuk atau bulu-bulu halus. Orang Manado memasak doggy dengan memanggang di atas api dan ketika bulu-bulunya habis terbakar tinggal bulu-bulu halus.

Saat makan, tiada tampak sambal dabu-dabu dihidangkan. Rupanya, awal Januari harga cabe sangat mahal. “Bahkan harga cabe sempat mencapai Rp.60.000/kg”, kata El Paat. Kalau lagi murah, bukan saja makanan menjadi luar biasa pedas, sambal dabu-dabu pun disediakan gratis sebagai pendamping makanan.

***

Semalam di Tomohon, aku harus pulang ke Manado sebelum terbang kembali ke Jakarta. Rencananya, sebelum ke Manado aku akan melihat-lihat Pasar Tomohon. Sayang, pagi itu hujan lebat mengguyur Tomohon sehingga acara jalan-jalan ke Pasar Tomohon batal.

Dalam salah satu artikelnya, Bondan Winarno menyebut Pasar Tomohon sebagai pasar paling unik. Beragam daging mentah dijual di sana. Mulai dari babi dan babi hutan hingga ular dan tikus! Ya, sebagian orang Minahasa mengkonsumsi daging tikus. Tentu bukan tikus rumah atau tikus wirok di got-got yang besar dan hitam itu. Tikus yang dijual adalah tikus hutan. “Orang sini hanya mau membeli tikus yang ekornya masih utuh dan berwarna putih. Kalau tidak berwarna putih atau sudah dipanggang, orang tidak mau beli karena curiga yang dijual tikus rumah”, kata Lowdy.

Ketika hendak kembali ke Jakarta keesokan pagi, aku kembali cemas. Pesawat Adam Air yang hilang belum ditemukan dan langit gelap karena awan. Apalagi hujan turun sepanjang malam hingga pagi.

Sebetulnya aku hendak mencari nasi kuning yang dibungkus daun kelapa di airport. Dulu saat aku berkunjung ke Manado pertama kali, di pagi hari sebelum terbang, tampak restoran dalam bandara menjual nasi kuning. Tetapi entah mengapa pagi itu tidak ada café yang menjualnya.

Untuk oleh-oleh, teman-teman di kantor pesan Klapertaart. Yang satu ini juga khas Manado. Kue taart buatan Manado ini menggunakan bahan kelapa muda dan disajikan dalam keadaan dingin. Juga terasa rum dalam kue yang lezat itu. Bagaimana rasanya? Tak sampai satu jam di kantor, Klapertaart ukuran besar itu pun tandas.

Categories: Perjalanan
  1. Wowor
    June 6, 2007 at 7:16 am | #1

    Masih ada yang ketinggalan lho….. seharusnya om lowdy ajak ke motoling-minahasa selatan, nyobain minum Cap Tikus ( Arak )…. heheheee………

  2. June 12, 2007 at 4:48 am | #2

    Wah, waktu di Tomohon Bung Lowdy dan El cuma ajak minum bir. Nggak tahu setelah saya balik ke Jakarta :)

  3. jifvy
    August 31, 2007 at 6:00 am | #3

    dtg k manado aplgi tomohon jgn cm sbntr donk. . . . . .
    hrsx smpe tahu logat “manado”……..

  4. Budi
    September 30, 2007 at 4:48 pm | #4

    Anda berdua bikin orang betul-betul ngiler! Kami sekeluarga tinggal di Virginia, AS. Saya terakhir mudik tahun 2003. Itupun hanya 1 minggu dan hanya di Jakarta.

    Disini sih banyak orang-orang Minahasa yg jago masak terutama di daerah-daerah seperti New Jersey dan California tapi biar bagaimanapun juga rasanya pasti engga bisa sama.

    Kalau YMK mengizinkan, bulan November ’07 ini saya ingin mudik lagi. Saya pasti akan mampir di restoran Tumbel di Cililtan. Saya betul-betul kangen dengan masakan Minahasa selain dengan masakan-masakan Indonesia lainnya seperti masakan Padang, Betawi dll.

    Sekali lagi anda betul-betul berhasil bikin orang ngiler.

    Selamat bekerja dan GOD bless you all.

  5. Anne
    December 6, 2007 at 6:18 am | #5

    Wah Pasti Asyik Bgt Yah..
    Pdhl Aq Pengen Bgt Ke Manado….
    Tp Klo Ksana Jgn Ngajak Aq Makan Melulu, Tapi Jalan2 Donk….
    Biasalah Cewek Kan Paling Takut Ma Momok Yng Namanya Endutt…
    Kalo Mau Cari Jagonya Jalan2, Sebut Namaku 3 X, Pati Aq Tersedak.
    He…He….
    Thanks Yah…GBU

  6. December 6, 2007 at 12:02 pm | #6

    Pak Danang sekarang kota Manado juga sudah punya icon baru berupa patung Yesus Memberkati terbesar se ASIA kedua di DUNIA kalau kesana jgn lupa mampir sekedar melihat-lihat ini beritanya di:
    http://voiceofsoul.wordpress.com/2007/12/03/monumen-%e2%80%9cyesus-memberkati%e2%80%99%e2%80%99-diresmikan/

    Thanks,

  7. March 21, 2008 at 2:25 pm | #7

    makan daging tikus itu sangat menjijikkan sptnya..
    mana bisa hewan yang biasa berkeliaran liar seperti itu enek dimakan????

  8. April 8, 2008 at 10:59 am | #8

    bukan hanya tikus, kelelawar pun akan menjijikkan untuk dimakan. Pernah dengar orang makan kecoak? Aku pernah membaca suatu daerah di Africa, kecoak jadi makanan enak di sana. Terlepas suka nggak suka, makanan adalah salah satu budaya manusia, termasuk soal daging tikus.

  9. lea
    July 23, 2008 at 12:44 am | #9

    Thanks banget cerita pakDanang bisa buat referensi saya yang baka ke manado pertama kali 26 juli ini.

  10. August 29, 2008 at 12:44 am | #10

    …salam kenal om Danang.
    Kalo ke Manado lagi, bisa jalan2 ke Danau Tondano. Ada sate kolombi (keong)..nikmat!!

  11. thonnych
    November 11, 2008 at 9:53 am | #11

    sebetulnya memakan daging hewan yang ‘tidak biasa’ seperti anjing, tikus, ular, kucing, yang sebetulnya sudah biasa di manado, berguna untuk kesehatan lho… ada khasiat dari masing-masing makanan itu. saya sendiri pernah makan tokek (gecko), cuman 2 ekor, tapi khasiatnya terasa. dulunya jerawatan, sekarang muka saya mulus.

  12. ida
    December 2, 2008 at 4:44 am | #12

    Salam kenal dariku….
    Permisi….numpang ngasih komentar
    Memang Manado terkenal sebagai tempat yang paling OK untuk Wisata Kuliner. Tapi sayangnya perjalanan Anda hanya ke Kota Tomohon, tapi nggak apalah….. khan udah banyak coba masakan Manado. Nanti kalo mau ke Manado lagi biar tambah asyiiik minta dianterin ke tempat-tempat wisata seperti Bunaken, Tempat Pemandian Air Panas & Sumaru Endo (Remboken), Danau Tondano, dll. Kalau di pinggiran danau Tondano banyak rumah makan ikan Mas dan Mujair, bahkan ada ikan yang namanya nike (kayak ikan teri tapi dari danau) yang semua dimasak OK punyalah….. Pasti beda deh suasananya kalo makan di rumah sama di pinggiran danau. Silakan mencoba……..GBU

  13. nabel
    December 2, 2008 at 12:14 pm | #13

    KHASIAT dari tikus hutan itu apa yaa?
    klo kucing dimasak apa?

    masakan manado yg mantapb jg ada di foodcourt Cibubur Djunction namanya MANGUNI… coba deh ! sambalnya Puedessss n Delicious apalg Sop Iga Babinya hmmm..dijamin tiap hari ksana !!!

  14. December 9, 2008 at 4:49 am | #14

    pak danang,kayaknya masih kurang deh.kalo ke manado,singgah di tikala.trus tanya ada ikan kucing ndak.kalo kagak ada diminta dibikinin, pasti akan di bikinin.karena daging kucing udah menjadi salah satu makanan favorit anak muda manado.jangan lupa yah.

  15. meli
    December 19, 2008 at 3:03 am | #15

    thx oom uda berbagi pengalaman. rencana 28 des sy sekeluarga mo tahun baruan kesana, mo ke motoling juga…. penasaran juga dgn tikus putihx. Tapi yang pasti bakpao di sana yummmy banget.

  16. Alysa Chimoetchi
    September 29, 2010 at 10:25 am | #16

    akkuh bangga jadii ank MANADO
    masakan disini enak” banged..
    apalagi pisang goroho nha pake dabu” roa,,,
    mmmm,,, nyamiiee,, :)

  17. lia
    December 27, 2010 at 11:27 am | #17

    manado…samua sadaaapp..

  18. December 16, 2011 at 9:40 am | #18

    Kalau di Balikpapan yang terkenal Bubur Manadonya.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: