Home > Security Sector > Pembunuhan Munir dan Kontrol atas Intelejen

Pembunuhan Munir dan Kontrol atas Intelejen

Pengadilan atas Indra Setiawan, mantan Direktur Garuda sebagai tersangka dalam kasus pembunuhan Munir berhasil mengungkap fakta baru. Salah satu kesaksian penting terungkap dalam pembacaan Berita Acara Pemeriksaan Budi Santoso, mantan Direktur 501 yang bertanggungjawab soal personel, logistik dan keuangan. Kesaksian Budi Santoso menyatakan bahwa Pollycarpus adalah jaringan BIN dan Budi berperan sebagai penghubung antara Pollycarpus dengan Muchdi Pr, mantan Deputi V BIN. Kesaksian Budi Santoso dengan sangat telak meruntuhkan pengakuan baik Pollycarpus dan Muchdi Pr.

Kesaksian Budi Santoso semakin memperkuat dugaan keterlibatan BIN sebagai institusi dalam pembunuhan aktivis HAM Munir. Seharusnya kesaksian Budi Santoso harus ditindaklanjuti dengan memeriksa seluruh pimpinan BIN saat itu. Investigasi menyeluruh terhadap BIN juga diperlukan untuk menegakkan supremasi hukum dan menempatkan seluruh warga negara Indonesia, termasuk agen dan pejabat intelejen, tunduk di bawah hukum.

Agenda lain yang perlu untuk ditindaklanjuti adalah bagaimana melakukan kontrol atas BIN. Selama ini praktis BIN seperti negara dalam negara. Minimnya perangkat regulasi tentang intelejen menjadikan BIN leluasa melakukan berbagai operasi. Tidak adanya kontrol efektif atas BIN menjadikan spion negara memiliki agenda dan kepentingan politik sendiri. Padahal semestinya, sebagai lembaga intelejen BIN harus tunduk dan melakukan operasi atas perintah pemerintahan yang sah.

Peran intelejen

Pembunuhan dengan motif politik sesungguhnya adalah praktek yang banyak dilakukan di kalangan intelejen. Sekuel film James Bond dan film-film tentang intel lainnya menunjukkan bagaimana intelejen saling baku bunuh dan tipu-menipu.

Dalam literatur tentang intelejen, pembunuhan biasanya merupakan bagian dari covert action atau tindakan tertutup untuk mengeliminasi ancaman terhadap negara. Selain covert action, intelejen juga memiliki peran lain seperti pengumpulan data, analisis dan kontra intelejen (Johnson, 1996). Dalam pengumpulan data dan analisis, intelejen bertugas mengumpulkan seluruh data dan informasi yang terkait dengan pertahanan negara, baik dari sumber terbuka maupun sumber-sumber rahasia. Sedangkan analisis dilakukan oleh intelejen untuk memberikan interpretasi dan pemahaman terhadap informasi yang terkumpul dan implikasinya bagi pertahanan negara. Melalui analisis, informasi yang diperoleh intelejen berguna bagi pengambil kebijakan di sektor pertahanan dan keamanan.

Sedangkan kontra intelejen merupakan tindakan intelejen untuk menangkal kegiatan intelejen musuh agar tidak mendapatkan informasi yang mereka inginkan. Baik dengan menjauhkan intelejen musuh dari sumber informasi atau memberikan informasi yang keliru.

Di balik ketertutupan aktivitas intelejen, tidak serta merta mereka bisa melakukan operasi atas kemauan sendiri. Seluruh tindakan intelejen harus diatur oleh pemegang otoritas politik.

Melihat bagaimana selama ini intelejen bekerja, maka tidak mungkin seorang agen seperti Pollycarpus melakukan pembunuhan atas inisiatif sendiri. Apalagi tindakan itu membutuhkan banyak sumber daya pendukung sehingga bisa dipastikan ada kebijakan dari BIN sebagai institusi. Oleh karena itu, kesaksian Budi Santoso menjadi sangat relevan untuk melakukan pemeriksaan seluruh institusi BIN dalam kaitannya dengan pembunuhan Munir.

Perlunya pengawasan intelejen

Bukan hal yang mudah untuk membuktikan keterlibatan intelejen dalam pembunuhan Munir. Bukan hanya karena sifat kerahasiaan BIN, tetapi juga karena memang tidak ada aturan hukum dalam intelejen di Indonesia. Keberadaan Badan Intelejen Nasional hanya diatur melalui Keppres No.11/2004. Sedangkan mekanisme pertanggungjawaban, struktur organisasi, cakupan pekerjaan dan kewenangan serta koordinasi dengan lembaga lain tidak ada aturannya sama sekali. Minimnya regulasi tentang intelejen menjadikan Muchdi Pr atau Hendropriyono sebagai Ketua BIN saat itu tidak mudah untuk diperiksa. Bahkan terakhir Jaksa Penuntut Umum tidak berhasil menghadirkan Muchdi di pengadilan (Koran Tempo, 22/1/2008)

Pembunuhan Munir menjadi momentum penting bagi kita untuk mengatur intelejen. Terutama untuk menempatkan intelejen sebagai lembaga negara yang mampu mendukung pertahanan negara tetapi tidak menyalahgunakan wewenang dan memusuhi warga negara sendiri.

Agar intel Indonesia menjadi intel yang baik, bukan “intel hitam”, yang perlu diatur adalah, pertama kejelasan tugas dan wewenang. Keberadaan intelejen sesungguhnya diperlukan untuk memberikan peringatan dini untuk menghindari pendadakan strategis (strategic suprises). Karena itu fungsi pengumpulan informasi dan analisis menjadi tugas paling penting dari intelejen.

Kedua, karena intelijen dibutuhkan untuk memberikan peringatan dini, maka intel tidak memiliki kewenangan untuk menangkap, apalagi melakukan pembunuhan. Dalam negara demokrasi, kewenangan untuk menangkap atau membatasi kemerdekaan seseorang hanya boleh dilakukan dalam rangka menciptakan ketertiban dan menegakkan hukum dan aturan.

Ketiga, karena luasnya area kerja dan target operasi dari intelijen, harus ada pengawasan dan kontrol terhadap intelijen. Selama ini, pengawasan terhadap BIN hanya dilakukan oleh Presiden. Sedangkan pengawasan oleh DPR hanya melalui mekanisme anggaran. Tiadanya mekanisme akuntabilitas membuat intel kita memiliki otonomi untuk mendefinisikan ancaman terhadap negara. Absennya pengawasan juga membuka peluang intel melakukan penangkapan, bahkan membunuh seseorang termasuk Munir, atas nama pertahanan dan keamanan negara. Bila kita alpa mengatur intelejen, tidak mustahil di masa mendatang akan ada lagi korban seperti Munir.

Categories: Security Sector
  1. fey
    June 23, 2008 at 12:09 pm

    Munir dgn kontrasnya sangat banyak mendapat dana daro sebiah organisasi yg berafiliasi dgn gerakan zionis internasional…tapi entah mengapa Mossad dan CIA sangat resah dgn segala aktifitas Munir sehingga harus dibinasakan

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: