Home > Perjalanan > Spring at Nott’s – L’borough – London

Spring at Nott’s – L’borough – London

Hujan lebat mengguyur Jakarta sore itu. Di beberapa tempat, selokan meluap. Termasuk di daerah Mampang. Taxi Blue Bird yang kutumpangi mesti melaju perlahan karena air cukup tinggi. Tampak satu dua motor mogok. Mungkin mesinnya kemasukan air.

Jam menunjukkan pukul 18.30 ketika taxi memasuki Bandara Soekarno Hatta. Rupanya malam itu Lufthansa, maskapai penerbangan asal Jerman tengah berpesta. Aku yang menjadi salah satu penumpang Lufthansa mendapat sebuah topi warna coklat muda. Di bagian depan topi ada gambar angsa kuning terbang dengan latar belakang warna biru, logo dari Lufthansa. Di bagian belakang tertulis “There’s no better to fly”.

Di ruang tunggu, makan malam juga disediakan untuk para penumpang Lufhansa. Kulihat tumpeng yang telah terpotong serta nasi kuning beserta lauk pauk dan asesoris yang menyertainya. Rupanya Lufthansa tengah merayakan penerbangan pertama dari Jakarta ke Bangkok. Kali pertama pesawat Jakarta – Frankfurt transit di Bangkok.

Sebuah pesta yang pahit. Tidak ada lagi penerbangan langsung Jakarta – Frankfurt. Ketika pesawat sudah mengangkasa, baru kutahu apa sebabnya. Tidak banyak penumpang dari Jakarta menuju Frankfurt menggunakan Lufthansa. Hanya ada beberapa penumpang. Dalam pesawat yang bisa berkapasitas 400 – 500 orang itu, hanya mengangkut penumpang kurang dari 100 dari Jakarta menuju ke Bangkok.

Lengkap sudah keterpurukan Indonesia. Sejak krisis menghantam dan meluluhlantakkan perekonomian negeri ini, Indoensia seakan terjerembab ke dalam krisis yang tidak berkesudahan. Memang sejak SBY-JK naik ke panggung kekuasaan, berbagai indikator ekonomi makro menunjukkan perbaikan. Tetapi, seperti analisis ekonomi Faisal Basri, tanda-tanda positif itu lebih didorong oleh faktor eksternal ketimbang inisiatif perbaikan dari dalam.

***
Bumi terlihat hitam gelap. Jarum jam menunjukkan pukul 05.30 saat pesawat melayang di atas Kota Frankfurt am Main. Di horison semburat sinar merah telah datang menghantar matahari berjumpa dengan bumi di hari terang. Tetapi dari atas, tampak listrik masih menyala terang menerangi kota Frankfurt.

Di Frankfurt, aku transit berganti pesawat menuju Birmingham, Inggris. Di bandara itu aku mesti menunggu lama. Terlalu lama untuk secangkir capucino seharga 2,5 euro yang kubeli di sebuah kios kecil di sudut salah satu ruang tunggu. 4 Jam aku harus menunggu pesawat menuju Birmingham.

Bandara Frankfurt sangat besar. Lebih besar dari Schipol atau Heathrow yang pernah kusinggahi sebelumnya. Pesawat dari Jakarta merapat di terminal C dan aku harus berdesakan dengan ratusan penumpang menuju terminal A.

Fasilitas bandara sangat lengkap. Café dan toko memenuhi ruang tunggu bandara. Lebih pas disebut mall daripada airport. Meskipun beberapa informasi disampaikan dalam dua bahasa, Jerman dan Inggris, tetapi beberapa fasilitas seperti telpon umum hanya bertuliskan bahasa Jerman.

“Sialan”, umpatku. Aku mencoba telpon koin sekali lagi. Kali ini malah tersambung ke sebuah nomor telpon karena aku mendengar suara perempuan dalam bahasa Jerman. Padahal aku hanya ingin bicara kepada Dian di Jakarta, sekedar mengabarkan kalau suaminya tengah transit di salah satu bandara terbesar dan termodern di dunia. Aku juga gagal ketika hendak menelpon Agam, kawanku yang tengah menyelesaikan studi di Nottingham. Agam berencana menjemput aku di bandara Birmingham.

Kekesalanku semakin bertambah ketika HP-ku yang menggunakan kartu Mentari tidak bisa roaming internasional. Padahal sehari sebelum berangkat aku sudah setting aktivasi roaming internasional. Dua tahun lalu, saat aku berkunjung ke Belanda, HP-ku sukses mengenali operator di sana. Bahkan ketika berkunjung ke kota lain, di layar HP tertulis operator lain.

Apalagi HP yang kupakai mengalami kerusakan. Treo 270 milikku patah flipnya. Lengkap sudah kekesalanku. Ditambah dengan badan yang terasa lelah melewatkan 14 jam dalam perjalanan Jakarta – Bangkok – Frankfurt.

“Aha”, kulihat mesin internet koin. “Barangkali aku bisa kirim e-mail atau chatting menggunakan Yahoo Messenger. Siapa tahu Dian sedang online di kantornya”, pikirku. Ternyata setelah kubuka situs yahoo messenger tidak kudapai fasilitas chatting online. Softwarenya harus didownload ke komputer sementara operating system pada mesin internet itu pun aku tak tahu.

Tetapi untunglah. Selain memberikan fasilitas internet, mesin itu juga menyediakan fasilitas pengiriman SMS. Tidak gratis tentu saja. 30 cent euro adalah biaya yang harus aku bayar untuk mengirim satu SMS. Ditambah biaya browsing, aku telah menghabiskan 1,5 euro.

***
JAM telah kusesuaikan dengan waktu Inggris. 6 jam selisih waktu dengan Jakarta atau Waktu Indonesia Bagian Barat. Pesawat Lufthansa mendarat di Birmingham tepat jam 11.00. aku menunggu beberapa sampai bertemu Agam. Beberapa bulan menjadi mahasiswa, dia tampak langsing. Juga gerakannya gesit. Bahkan ketika kami berjalan, segera saja aku tertinggal dan terengah-engah.

Dari bandara kami menuju ke Birmingham City Center. Di situ sebuah pertokoan dengan desain bulat yang futuristik. Sementara di latar depan, sebuah gereja tua masih berdiri tegak. Sembari menunggu bis yang akan membawa kami ke Nottingham, kami makan dan minum kopi di pertokoan City Center. Kami minum Starbuck. “Di Inggris pemiliknya tentu bukan Sjamsul Nursalim”, kataku kepada Agam. Saya dan beberapa teman memang tidak akan minum di Starbucks di Jakarta karena jaringan warung kopi internasional, pemegang franchisenya di Indonesia bagian dari kelompok usaha Sjamsul Nursalim. Masih ingat BLBI? Sjamsul Nursalim adalah salah satu penunggak besar BLBI. Meskipun akhirnya dia mendapat SP3 dari Kejaksaan Agung, tetapi sampai sekarang dia masih melarikan diri ke luar negeri. Awalnya dengan alasan sakit, tetapi kemudian tidak jelas di mana dia berada sekarang.

Jam 16.00 kami berangkat menuju Nottingham dari Digbeth Coach Station. Menggunakan bis National Transport, perjalan menuju Nottingham hanya membutuhkan waktu 45 menit saja. Rencananya, aku menginap di flat Agam. Kebetulan Agam menyewa dua kamar, sehingga ada tempat untuk kawan yang menginap.

Sebelum menuju flat Agam, kami sempat minum teh panas di Ye Olde Trip to Jerusalem. Nama ini menggunakan ejaan Inggris lama, padanannya: The Old Trip to Jerusalem. Kabarnya, itu café tertua di daratan Inggris dibangun tahun 1189. Dulu menjadi persinggahan bagi para peziarah dan ksatria yang hendak menuju Jerusalem saat Perang Salib berkecamuk. Kafe itu menempel pada bukit cadas di belakangnya. Sesungguhnya, kafe itu menggunakan gua sebagai ruangan.

50 m dari kafe ada patung Robin Hood. Nottingham menjadi setting bagi kisah Robin Hood. Sherif Nottingham menjadi lawan Robin Hood. Di belakang patung ada beberapa relief yang menggambarkan kisah kepahlawanan Robin Hood. Di seberangnya, terdapat Lace Market. Dulu tempat itu adalah pasar bagi lace atau kain untuk korden. Barangkali pasar itu menjadi salah satu tempat kebanggaran penduduk kota Nottingham.

***
Pagi itu udara dingin menggigit. Aku dan Agam menuju ke Stasiun Nottingham. Kami menggunakan kereta menuju Kota Loughborouh. Loughborough adalah kota kecil di kawasan Midland. Berpenduduk 50 ribu orang saja dan sebagian besar adalah mahasiswa dan karyawan di Universitas Loughborough.

Kami menuju ke Water, Engineering and Development Centre (WEDC), sebuah pusat penelitian lintas disiplin yang berada di bawah fakultas teknik Universitas Loughborough. Kantornya sangat sederhana. Berbentuk kotak seperti peti kemas yang dijajar bersambung. Di situ, M. Sohail, pemimpin proyek penelitian mengundang ICW untuk terlibat dalam penelitian tentang infrastruktur.

Pertemuan berjalan seperti biasa. Siang, saat makan siang, datang seorang kawan dari Indonesia menemuiku dan Agam di WEDC. Dia tengah menyelesaikan disertasi di Loughborough University. Siang itu Sohail menghidangkan makan siang a la Eropa. Maksudku, kebiasaan orang Eropa makan siang disajikan dengan cepat, ringkas dan dikunyah sembari menyelesaikan pekerjaan. Kami makan sandwich. Roti lonjong, dibelah dua memanjang menjepit sayuran dan ikan atau daging. Ada dua jenis: tuna, daging dan mentega. Juga tersedia sate vegetarian. Seperti sate, dipotong kecil-kecil dan ditusuk dengan bambu, hanya bukan daging tetapi sayur-sayuran.

Sore aku dan Agam kembali ke Nottingham naik kereta. Jaraknya tidak terlalu jauh, Loughborough – Nottingham hanya memerlukan waktu 15 menit saja. Tiket kereta 5 pound untuk return ticket. Tidak terlalu mahal, tetapi dibandingkan dengan tiket di negara Eropa lain seperti Belanda dan Belgia, jelas lebih mahal untuk jarak yang ditempuh serta nilai pound yang lebih besar dari Euro. Inikah keberhasilan dari privatisasi? British Railways, jawatan kereta api Inggris diprivatisasi saat Margaret Thatcher berkuasa. Privatisasi perusahaan kereta api menjadi salah satu peristiwa penting pengurangan peran negara dalam pelayanan publik. Ya, pada masa Margaret Thatcher di UK dan Ronald Reagan di US, peran pemerintah secara sistematis dikurangi dan digantikan oleh sektor swasta. Asumsinya, karena kompetisi yang harus dihadapi oleh sektor swasta, pelayanan bisa lebih efisien, lebih baik dan bebas dari korupsi. Lalu di mana peran pemerintah? Dalam pelayanan publik, pemerintah diposisikan sebagai regulator saja dan ekonomi kemudian ditata menurut gagasan pemikiran yang kini populer disebut neo-liberal.

Di Nottingham, aku dan Agam berjalan kaki ke downtown. Sore itu, Agam mengajakku bergabung dengan kawan-kawannya, penggemar kuliner. Rupanya, bersama sejumlah mahasiswa Indonesia, Agam membentuk perkumpulan “pemburu” makanan enak. Mereka mencari dan mencoba restoran yang dikabarkan menyajikan makanan enak. Sore itu, mereka mencoba makanan Chinesee Food di Restoran Wagamama, di kawasan downtown Nottingham.

Rupanya mereka terinspirasi Komunitas Jalansutra. Bondan Winarno, salah seorang penulis terkemuka di Indonesia, menulis kolom Jalansutra yang berisi ulasan tentang makanan enak. Agam dan kawan-kawan telah membentuk Jalansutra Cabang Nottingham. Suatu kali, bila anda pergi ke Nottingham jangan lupa bertanya kepada mereka, terutama restoran enak dan harga terjangkau.

***
Hari masih pagi. Tia, istri Agam menghangatkan sayur udang dan nasi. Pagi itu aku mau London. Sewaktu ke Oxford tahun 2002 lalu aku sempat semalam di London. Tetapi sayang, aku dan alm. Irfan saat itu tidak sempat jalan-jalan di London.

Berbekal tiga potong roti tawar dan cracker, pagi itu aku pinjam sepeda Agam ke Broad Marsh Coach Station di Nottingham. Tiket kubeli melalui internet menggunakan kartu debit milik Agam. Sesudah mendapatkan otorisasi, tiket dapat dicetak ke printer dari situs perusahaan bis National Transport.

Pikiranku terbayang seandainya saja di Indonesia bisa seperti ini. Tentu pengalaman tidak menyenangkan yang membuatku kapok ke Pulogadung lai. Tahun 2001 lalu, aku mengantar ibu ke Pulogadung.

Hari sudah malam. Jam menunjukkan pukul 11 malam, tetapi Ibu ngotot untuk pulang ke Rembang, Jawa Tengah malam itu juga. Katanya, keesokan harinya dia harus menghadiri rapat di kantor. Akhirnya aku dan Dian mengalah dan mengantar ke Pulogadung. Ibu memilih bis eksekutif ke Surabaya dan kami pun pulang. Eh, ketika hendak mencari taksi seseorang mendatangi kami meminta tip. Katanya ongkos membantu kami mencari bis. Tentu kami pun menolak. Tetapi tetap saja dia ngotot.

Kami pun segera bergegas mencari taksi sambil berlari. Ketika kami berhasil masuk taksi, orang itu menggedor jendela, “Ini ada yang ketinggalan”. Ternyata dia menyodorkan buku agenda Dian yang ada di dalam tas dan kembali meminta uang. Rupanya, saat dia minta tips, tangannya sempat merogoh tas dan untunya yang terambil buku agenda. Dompet Dian masih tersimpan di bagian lain tas yang selalu dipegang erat. “Busyet, kapok aku ke Pulogadung malam hari,” umpatku dalam hati.

Situasinya memang tidak sederhana. Kalau perusahaan bis bisa menyediakan penjualan tiket on-line, yang beli tidak akan terlalu banyak. Maklum, akses internet di Indonesia tergolong rendah. Bahkan dibandingkan dengan negara sekawasan Asia Tenggara, Indonesia hanya lebih baik dari Laos dan Kamboja atau Myanmar.

Pengguna internet di Indonesia, selain mahasiswa adalah masyarakat yang termasuk menengah ke atas. Mereka ini sebagian besar memiliki kendaraan pribadi. Jadi konsumen bis adalah mereka yang termasuk menengah ke bawah. Kalau mau bepergian mereka tidak terburu-buru, datang ke terminal membeli tiket dan menunggu bis. Bis terlambat sudah biasa.

Soal keterlambatan, ternyata juga kualami dalam perjalan ke London. Nottingham – London menggunakan bis hanya memerlukan waktu 3 jam. Tetapi ketika bis hendak berangkat, sopir sudah mengingatkan bahwa bis bisa terlambat sampai satu jam. “It’s depend on traffic”, katanya. Seperti kota besar lainnya, London juga menghadapi problem kemacetan. Saat mobil hendak memasuki kota London, jalanan menjadi sesak. Ribuan mobil dari segenap penjuru Inggris seakan hendak berebut memasuki kota. Tetapi untunglah, di London ada alternatif transportasi menghadapi kemacetan. Salah satunya London Underground atau kereta bawah tanah.

Di London, bis berhenti di Victoria Coach Station. Sekitar 100 m dari terminal bis juga terdapat terminal kereta bawah tanah dan kereta antar kota. Agaknya seluruh moda transportasi di London telah tertata rapi. Pada terminal tertentu, stasiun kereta bawah tanah “bertemu” dengan stasiun kereta antar kota dan terminal bis.

***
Perutku terasa lapar. Kaki juga sudah terasa lelah setelah mengunjungi Buckingham Palace dan menyusuri St. James Park ke Trafalgar Square. Buckingham adalah tempat kediaman resmi Ratu Inggris. Bila Ratu ada di istana, bendera UK akan dikerek naik. Beruntung siang itu aku sempat melihat barisan pasukan penjaga istana berbaris menuju markas mereka dengan diiringi drum band.

Sementara udara yang relatif hangat bagi ukuran orang Inggris, masih terasa dingin yang menyiksaku. Ditambah dengan perut keroncongan. Segera saja kubuka bekal dari Nottingham. Roti + cracker kulahap di Trafalgar Square, salah satu landmark Kota London. Meski kenyang, tetap saja aku kedinginan. Untung di sebelah Trafalgar Square ada museum, dan aku bisa duduk-duduk di dalam tanpa kedinginan.

Dari Trafalgar aku kembali menyusuri London. Kali ini aku menuju ke arah Big Ben. Jam besar yang terpasang pada salah satu menara di Gedung Parlemen Inggris. Di dekat Bigben terletak Katedral Westminster. Di gereja ini keluarga kerajaan menyelenggarakan berbagai acara keagamaan, seperti pembaptisan dan pernikahan.

Dari Big Ben aku mencoba naik Tube. Di London, kereta bawah tanah disebut tube, sementara bis disebut dengan Coach. Berbekal buku Lonely Planet milik Agam aku menuju ke London Tower. Bangunan ini dulu adalah salah satu benteng pertahanan di Kota London. London Tower berada di dekat jembatan Kota London atau London Bridge. Aku teringat salah satu lagu kegemaran anakku.

London Bridge is falling down, Falling down, falling down,
London Bridge is falling down, My fair Lady.

Build it up with wood and clay, Wood and clay, wood and clay,
Build it up with wood and clay, My fair Lady.

Wood and clay will wash away, Wash away, wash away,
Wood and clay will wash away, My fair Lady.
. . . . . . .

Lagu anak-anak itu bercerita tentang sejarah London Bridge. Awalnya jembatan London dibangun menggunakan kayu dan tanah liat. Tetapi beberapa kali mengalami kerusakan, bahkan hancur saat penyerbuan bangsa Viking ke Inggris tahun 1000. Lalu pada tahun 1176 Peter de Colechurch membangun jembatan London menggunakan batu dan tegak berdiri sampai sekarang setelah beberapa kali mengalami renovasi.

Sore hari aku kembali ke Victoria Coach Station. Tube penuh sesak karena orang pulang kantor. Aku kembali teringkat Jakarta dan KRL-nya. Tube sebetulnya juga sangat berjubel saat pagi dan sore. Tetapi karena semuanya teratur dan tepat jadwal, padatnya tube jauh lebih baik daripada terjebak macet di Kota London. Seandainya saja KRL dapat diatur. Penumpang yang masuk ke stasiun harus membeli karcis, pedagang asongan dibatasi keberadaannya. Bukan maksudku tidak punya perspektif kemiskinan. Tetapi banyaknya asongan, pengamen dan pengemis membuat KRL semakin sesak. Apalagi kabarnya roda kereta dorong penjual teh botol memberi kontribusi signifikan atas rusaknya lantai KRL. Yang diperlukan bukan mengusir, tetapi mengatur dan menempatkannya pada area yang sudah ditentukan sebelumnya. Soal pengamen misalnya. Saya paling senang berada di Stasiun Bogor karena di sana banyak kelompok pengamen yang kreatif. Tidak asal teriak, tetapi mereka membawa peralatan sederhana lengkap bak orkes.

Pada KRL, sekilas yang tampak adalah kekacauan, ketidakteraturan. Coba saja anda naik KRL tanpa bayar karcis. Langsung naik saja. Di peron tak akan ada pemeriksaan. Di dalam kereta, terutama saat penuh, hampir tidak mungkin kondektur memeriksa. Kalau kebetulan ada kondektur, langsung saja bayar di tempat. Atau kalau mau menghindar, bilang saja “abu”, alias abunemen atau pemegang karcis berlanggana. Jangan kuatir, kondektur tak akan meminta anda menunjukkan kartu abunemen anda.

Soal jadwal? Jangan tanya. Mengatur penumpang saja tidak bisa apalagi mau mengatur jadwal kereta yang lebih kompleks persoalannya. Kecuali di stasiun keberangkatan, hampir bisa dipastikan kereta selalu datang terlambat. Bahkan berkali-kali KRL tabrakan. Anehnya, tak ada Direktur atau pejabat di Departemen Perhubungan yang mengundurkan diri.

***
Salah satu kemewahan bagi mahasiswa yang kuliah di luar negeri adalah akses ke jurnal elektronik. Jumat aku ke perpustakaan Nottingham University. Menggunakan password Agam aku masuk ke situs perpustakaan digital dan mengunduh puluhan paper. Lebih dari lima jam aku duduk di perpustakaan. Barangkali ini oleh-oleh paling berharga dari Inggris karena tak hanya buatku, paper tentang berbagai topik itu bisa dibaca dan dimanfaatkan oleh teman-teman lain.

Tetapi aku tidak kuat berlama-lama. Karena hari itu aku lupa pakai kaos dalam. Hanya baju + jaket, dan itu tak cukup tebal untuk menahan dingin. Alhasil, kembali alergiku kumat. Yah, alergi dingin. Kalau kedinginan aku terus-menerus bersin, bahkan bisa seharian tidak berhenti.

Sembari menyeka hidung dan menahan bersin, Agam dan Tia mengajakku ke Wollaton Hall. Gedung tua yang selesai dibangun tahun 1588 kini dikelola oleh Pemerintah Kota Nottingham dan menjadi museum alam. Di dalam terdapat berbagai jenis binatang yang telah diawetkan. Wollaton Hall dikelilingi oleh lapangan dan taman yang luas. Tampak beberapa pengunjung membawa anak dan anjing untuk berjalan-jalan di taman itu.

Dari Wollaton Agam mengajakku makan masakan khas Inggris: Fish and Chip’s. Bahasa Indonesianya: ikan goreng + kentang goreng. Rupanya ini makanan tradisional Inggris, ikan digoreng tepung. Tetapi seperti masakan Eropa tanpa bumbu rempah-rempah dan garam. Orang Inggris makan fish & chips dengan saus tabasco serta garam yang ditaburkan di atasnya. Kami menikmati fish & chip di kafe Moulin Rouge, dekat Broad Marsh. Untuk minumnya aku mencoba teh Inggris, ternyata teh dan susu, alias susu teh agar lebih dekat dengan susu kopi yang populer di Indonesia.

Categories: Perjalanan
  1. mariya
    June 13, 2007 at 9:14 am

    cerita yg seru.. sy jadi teringat pengalaman sy waktu berkunjung ke inggris bbrp tahun yg lalu. Banyak hal yg sangat menarik yg bs ditemui di eropa, terutama dengan disiplin dan ketertibannya. sy sangat iri dengan keteraturan dan ketertiban orang2 dan transportasinya. kapan kt bs belajar dan mulai untuk tidak egois dan mulai untuk peduli dengan masa depan negeri ini?? bagaimana dg nasib anak2 yg tdk memiliki kesempatan baik di negeri ini? harus bagaimana mrk? dan akan mjd sprt apa mrk? hanya kesempatan untuk menjadi lebih baik, yang sangat ingin sy lihat dan alami di negeri tercinta ini..

  2. June 19, 2007 at 11:16 am

    Ya, kalau soal disiplin nggak perlu jauh-jauh ke Eropa. Singapura bisa menjadi contoh, walaupun bukan contoh yang baik. Hong Kong juga bisa menjadi contoh bagaimana mereka berhasil mentransformasi masyarakat yang korup, kacau balau, tidak teratur, dll di tahun 70-an menjadi negara kota yang sangat modern dan tertib saat ini.

    Sepertinya butuh waktu lama untuk mengubah masyarakat. Yang paling penting sih menurut saya, jangan pernah menyerah untuk melakukan perubahan.

  3. ii
    October 20, 2007 at 3:49 pm

    Bisakah anda memberikan informasi ke saya, apakah ada fakultas kedokteran yang letaknya nggak jauh (maksimal 1jam perjalanan) dari London Bridge?

    jika ada, Universitas apa, ya?
    kira-kira, saya bisa dapat iformasi lengkp ttg univ. itu dari mn?

    mhon bnTuannya…
    Trim’s

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: