Home > Perjalanan > Memerangi Korupsi Polisi, Belajar dari Kota Schenectady

Memerangi Korupsi Polisi, Belajar dari Kota Schenectady

Siapa bilang korupsi hanya ada di Indonesia dan negara miskin lainnya? Negara seperti Amerika yang memiliki tradisi panjang demokrasi dan dikenal dengan sistem peradilan yang tegas ternyata memiliki problem dengan korupsi dan penyalahgunaan wewenang oleh kepolisian. Kasus korupsi polisi di Schenectady bisa menjadi contoh dan pelajaran menarik bagaimana masyarakat berpartisipasi aktif dan menjadi aktor penting dalam pemberantasan korupsi.

Schenectady, kota kecil di New York, terletak di dekat Albany, ibu kota negara bagian New York. Saat ini Schenectady hanya dihuni oleh kurang lebih 60.000 orang. Dulu di kota ini General Electric, perusahaan listrik raksasa, memiliki kantor pusat dan beberapa pabrik. Tetapi kini GE telah memindahkan sebagian besar unitnya keluar dari Schenectady. Saat ini di yang tersisa tinggal kantor pusat dan unit R&D saja, sedangkan pabriknya telah direlokasi di tempat lain.

Ada cerita menarik di Schenectady yang bisa menjadi pelajaran. Kota Schenectady sempat dihebohkan oleh penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi yang dilakukan Kepolisian Kota Schenectady. Departemen Polisi adalah satu unit di bawah pemerintah kota yang mandiri. Dalam sistem pemerintahan di Amerika, setiap kota memiliki unit polisinya sendiri yang direkrut dan dibiayai oleh pemerintah kota.

Berawal dari pendampingan yang dilakukan oleh National Association of The Advancement of Colored People (NAACP) yang saat itu dipimpin oleh Joseph Allen and Sekretariat Keadilan dan Perdamaian yang dimotori oleh Pendeta Phil Grigsby. Mereka memprotes berbagai tindakan brutal yang dilakukan oleh polisi.

Komplain terhadap polisi yang brutal kemudian menjadi materi bagi liputan investigatif di Schenectady Gazzette, sebuah koran lokal. Mike Goodwin, adalah jurnalis yang mengangkat isu tentang berbagai pelanggaran dan korupsi yang dilakukan oleh Polisi Schenectady. Peristiwa Schenectady kemudian menarik perhatian New York Civil Liberties Union, sebuah perkumpulan yang berjuang untuk membela hak-hak dasar warga negara di New York. Organisasi ini yang kemudian mengangkat isu korupsi polisi Schenectady di tingkat nasional sehingga kemudian FBI melakukan investigasi.

Perlawanan juga dilakukan Kevin Luibrand, pengacara pembela hak-hak sipil. Kevin melakukan gugatan terhadap Polisi Schenectady mewakili korban-korban penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan oleh polisi. Dalam kasus polisi Schenectady, Kevin menangani 14 gugatan dan hanya 1 gugatan yang kalah.

Kolaborasi berbagai aktor untuk melawan berbagai praktek penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi oleh polisi tidak berjalan mulus. Bahkan membutuhkan waktu bertahun-tahun sampai akhirnya penegakan hukum dilakukan.

Karena protes berbagai kelompok masyarakat, akhirnya FBI pun turun tangan untuk melakukan penyelidikan. Sayangnya Departemen of Justice tidak melanjutkan kasus itu. Para aktivis di Schenectady menilai bahwa yang terjadi di Schenectady tidak menjadi prioritas pemerintah Amerika di bawah pemerintahan George Bush Jr sehingga kasusnya kemudian dihentikan.

Meskipun beberapa polisi akhirnya dijatuhi hukuman, membersihkan korupsi dari kepolisian bukan hal yang mudah. Baru-baru ini kembali terungkap bagaimana seorang polisi bisa mengakali sistem penggajian, dengan banyak bekerja di jam-jem lembur, sehingga yang bersangkutan bisa memperoleh gaji tertinggi di antara seluruh pegawai kota Schenectady. Dwayne Johnson, memperoleh gaji sebesar $168.000 per tahun padahal akhirnya dia ketahuan tinggal di apartemen pada saat seharusnya patroli di jalan.

Korupsi yang sistematis di Kepolisian Schenectady berakar pada serikat buruh (union) polisi. Kepolisian Schenectady memiliki 166 personel dan sangat dominan dalam union. Pada gilirannya, union ini sangat berpengaruh dalam Pilkada sehingga siapa pun Walikota Schenectady terpilih harus berkompromi dengan Union dan polisi yang korup yang berjasa dalam Pilkada.

Akan tetapi akhirnya perlawanan tanpa henti masyarakat Schenectady membuahkan hasil. Melalui berbagai advokasi yang tidak kenal lelah, akhirnya beberapa polisi kini berhasil dihukum dan mendekam di penjara. Advokasi di Schenectady bisa menjadi contoh bagaimana civil society melakukan perlawanan terhadap korupsi. Yang terjadi di Schenectady juga menunjukkan bagaimana reformasi dari dalam tidak berhasil karena kepolisian Schenectady telah dibajak oleh polisi korup. Gregory Kaczmarek, Kepala Kepolisian Schenectady yang meminta FBI untuk melakukan investigasi korupi, belakangan harus mendekam di penjara karena dia terlibat dalam perdagangan obat bius.

Terbongkarnya kasus korupsi dan dihukumnya sejumlah personel kepolisian di Schenectady memberikan pelajaran berharga bagi kita di Indonesia. Korupsi bisa diberantas tetapi syaratnya harus ada partisipasi dalam bentuk tekanan publik dari masyarakat. Tanpa desakan publik, mustahil penegakan hukum dilakukan. Reformasi birokrasi yang kini banyak dilakukan di Indonesia adalah kemustahilan tanpa partisipasi dan tekanan publik. Oleh karena itu, belajar dari Schenectady, sebelum melakukan reformasi, tekanan publik yang harus diperkuat.

Inilah daftar polisi yang kini harus menjalani hukuman karena praktek korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan lainnya (Times Union, 13 Februari 2009).

  • Gregory T. Kaczmarek, dua tahun penjara karena terkait dengan obat bius. Kaczmarek adalah mantan Kepala Polisi Schenectady yang pada tahun 1999 meminta FBI untuk melakukan investigasi kasus korupsi di Kepolisian Schenectady.

  • Jeffrey Curtis, 4 tahun penjara karena mencuri kokain yang menjadi alat bukti.

  • Michael Siler, 2 tahun penjara karena memberi obat bius kepada informan.

  • Richard Barnett, 15 bulan penjara karena terbukti memberi obat bius (crack) kepada informan.

  • Kenneth Hill, 2 tahun penjara karena terbukti memberikan senjata kepada penjual obat bius 2004.

  • Nicola Messere, 2 tahun penjara karena memberikan obat bius kepada informan.

  • Michael Hamilton, Jr, 4 tahun penjara karena menggagalkan (tipping off) investigasi obat bius.

  • Ronald Pedersen, mengundurkan diri karena tekanan publik karena terkait dengan prostitusi.

  • Christopher Maher, menyatakan diri bersalah (plea guilty) karena menggagalkan investigasi perjudian.

  • John Lewis, dalam proses hukum karena mengemudi dalam keadaan mabuk dan merusak property dan melakukan pelecehan terhadap mantan istrinya.

  • Darren Lewis, dalam proses hukum karena meninggalkan lokasi kecelakaan dan berkelahi dengan penumpang kendaraan.

  • Dwayne Johnson, masih dalam pemeriksaan karena saat patroli dia kedapatan tinggal di apartemen.

Categories: Perjalanan
  1. wilson
    November 1, 2009 at 12:24 pm

    ada yang indo ngak??
    klo ada tolong dilampirkan dong
    thanks

  2. October 30, 2010 at 4:42 am

    sip banget artikelnya makasih y

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: