Home > Perjalanan > Welcome to USA!

Welcome to USA!

Beberapa teman pernah bercerita bagaimana sulitnya berurusan dengan imigrasi Amerika. Mereka harus menjalani pemeriksaan yang lama sebelum akhirnya diijinkan masuk Amerika meskipun telah mendapatkan visa. Rupanya aku juga mengalaminya. Aku harus menjalani pemeriksaan yang cukup lama di Secondary Inspection di San Fransisco Airport. Aku bersama tiga orang teman, Tita (LeIP), Andri (Mappi FH UI) dan Agung (MTI) diundang oleh Departemen of State (Departemen Luar Negeri) Amerika mengikuti International Visitor Leadership Program. Program ini mengundang pemimpin masyarakat dari berbagai negara untuk berkunjung ke Amerika, bertemu dengan anggota Kongres, jurnalis,  LSM Amerika hinggga orang-orang biasa.

Pesawat United Airlines yang aku tumpangi mendarat di bandara San Fransisco pukul 11.25 waktu setempat. Keluar dari pesawat aku harus antri di imigrasi. Setelah bertanya apa tujuan aku ke Amerika, petugas yang memerika langsung meminta agar masuk ke secondary saat aku masih mencoba meletakkan tangan di alat rekam sidik jari. “It’s done. Go to the secondary!”.

Rupanya di Secondary tidak langsung diperiksa karena harus antre. Saat masuk ke ruang tunggu, aku bertemu Andri dan Agung, rupanya kami bertiga kena pemeriksaan Secondary. Informasi dari Kedutaan Amerika di Jakarta tidak benar. Salah seorang staf mengatakan dalam briefing mengatakan, kemungkinan akan ada pemeriksaan lanjutan yang dilakukan secara acak. Yang terjadi bukan acak dan kemungkinan, tetapi semua kami yang laki-laki harus menjalani pemeriksaan. Barangkali mereka masih menganggap bahwa laki-laki dari Indonesia bisa berpotensi untuk menjadi teroris yang menyerang Amerika. Sedangkan Tita tidak kena Secondary Inspection, barangkali karena perempuan dan tidak dianggap sebagai ancaman.

Sebetulnya pertanyaan yang diajukan oleh petugas Customs and Border Protection (CBP) adalah informasi sama yang pernah aku isi dalam formulir untuk aplikasi visa. Akan tetapi agaknya tidak ada koordinasi antara Embassy di Jakarta dengan CBP. Kalau mereka mau cek sebetulnya tinggal langsung telpon saja beberapa nomor telpon yang ada di formulir atau akses data di Embassy.

Fabrigas, petugas CBP, orang Amerika keturunan Filipina. Dia memeriksaku sambil cerita beberapa hal tentang Indonesia dan mengaku leluhurnya ada darah Indonesia. Sepertinya ia ingin bersikap ramah kepadaku, tetapi tetap saja pemeriksaan yang menyebalkan. Apalagi aku ke US diundang oleh Departemen of State (Departemen Luar Negeri). Jelas sekali karena visa yang didapat juga khusus untuk program itu. Juga kalau ragu visa itu palsu bisa langsung telpon ke beberapa pejabat di Departmen of State yang nomor kontaknya ada di visa.

Mereka bertanya tentang latar belakangku, di mana aku sekolah dan di fakultas apa. Juga nama dan alamat rumah serta instri serta alamat kantor. Mereka juga bertanya tentang kartu kredit. Yang menyebalkan mereka memintaku menyatakan bahwa informasi yang aku berikan adalah benar dan jika salah maka aku bisa kena hukuman berdasarkan aturan hukum Amerika. Bahkan kemudian aku pun dipotret sembari menunjukkan dokumen yang berisi pernyataan bahwa aku harus melapor kembali ke kantor CBP. Rasanya seperti terdakwa kasus pidana yang diambil fotonya oleh polisi.

Akhirnya pemeriksaan selesai jam 14.00 atau kurang lebih 2,5 jam. Gara-gara pemeriksaan secondary, aku ketinggalan pesawat domestik menuju Washington DC. Celakanya, United Airlines sama kelakuannya dengan penerbangan murah di Indonesia, sering delay. Pesawat yang harusnya berangkat jam 16.00 ternyata ditunda jam 19.00. Ternyata dalam flight UA juga tidak disediakan makan malam, malah penumpang diminta beli makanan yang mereka sediakan. Perjalanan ke DC memakan waktu 4 jam ditambah beda waktu 3 jam. Pesawat mendarat jam 2 pagi dan sampai hotel jam 4 pagi.

Saat akan pulang ke Indonesia, lagi-lagi aku harus berurusan dengan CBP. Mereka yang kena secondary inspection diwajibkan lapor saat meninggalkan Amerika. Kewajiban ini juga disertai dengan ancaman bahwa urusan ke Amerika akan menjadi sulit. Ancaman ini bukan suatu yang jelas dan tertulis, tapi berdasarkan cerita dari mulut ke mulut. Bahkan ada teman yang mengatakan bila kami tidak lapor tidak akan diijinkan lagi untuk datang ke Amerika selama 5 tahun. Terlepas benar tidaknya ancaman ini, yang jelas CBP dengan sukses membuatku dan teman-teman takut sehingga akhirnya kami pun kembali lapor.

Tetapi lagi-lagi aku harus mengelus dada dan bersabar sembari terus mengingatkan diriku bahwa aku masih berpijak di atas wilayah Amerika. Bayangkan, saat kami cari-cari kantornya di San Fransisco airport, sungguh tidak mudah untuk menemukannya. Lihatlah foto kantor mereka di bawah ini.

Petunjuk lokasi kantor CBP, San Fransisco Airport

Petunjuk lokasi kantor CBP, San Fransisco Airport

Ya, papan nama yang tertutup itu adalah kantor CBP. Jadi kami disuruh mencari-cari kantor mereka di San Fransisco Airport tetapi sama sekali kami tidak menemukannya. Kami mengetahuinya setelah bertanya-tanya ke informasi. Setelah itu, lagi-lagi kami harus mengalami kesulitan. Rupanya yang disebut kantor oleh CBP itu adalah sebuah bilik yang tidak ada penjaganya. Hanya ada kertas tertempel di pintu tentang jam kerja dan no telpon bila tidak ada penjaga berada di kantor serta persyaratan yang harus kami bawa.

Kami cukup beruntung karena waktu itu kami diantar oleh teman Andri yang bekerja pada beberapa proyek di State Departemen. Dia langsung telpon ke kantor CBP dan lima menit kemudian baru petugas datang ke ruang itu. Tanpa bantuannya,  tentu kami akan langsung masuk boarding karena HP-ku, mungkin salah setting oleh Indosat, nggak bisa telpon keluar. Demikian juga telpon teman-teman yang lain.

cbp_office3

Perlu diketahui, ruang CBP ini benar-benar terpisah dari pemeriksaan imigrasi saat penumpang akan masuk ke ruang tunggu. Kami pun sebenarnya juga bisa langsung masuk ke ruang tunggu tanpa harus lapor. Apalagi saat itu waktu untuk boarding benar-benar singkat karena kami transit dari penerbangan domestik.  Dengan berbagai kerumitan ini aku mengerti bila  ada beberapa teman yang akhirnya harus rela tidak lapor dan kemudian menghadapi berbagai pemeriksaan saat kembali ke Amerika lagi.  Waktu itu kami benar-benar  merasa “terteror” oleh CBP. Atau memang ini tujuan dari pemeriksaan oleh CBP, untuk menciptakan ketakutan dan kepatuhan mereka yang berkunjung ke Amerika?

Seperti kata Andri temanku yang sama-sama menjalani pemeriksaan, “Welcome to America”. Meskipun Obama sudah menjadi presiden, tetap saja kebijakan imigrasi yang paranoid itu nggak berubah. Masih butuh waktu agar ada perubahan dari kebijakan yang hawkish itu. Mudah-mudahan kelak CBP mampu menunjukkan wajah bersahabat Amerika.

Categories: Perjalanan
  1. heechulforever
    July 19, 2009 at 7:49 am

    haloo .. wahh gw emang lagi nyari2 informasi kayak gini nih , soalnya minggu dpn aku mo san fransisco buat kuliah d situ .. tp aku blm pernah ke amerika , jadi takut ada masalah d sana , apa lagi ortu ga ada yang nganter , cumaama temen satu , itu juga ga kenal2 bgt . mo nanya dong , itu yg secondary itu yang cewek pasti ga kena ya ??? trus apa aja sih yang ga blh d bw klo mo ke amrik ?? soalnya gw mo tgl 4 taun d sana , gw bakal bawa macem2 , tp takut nya ada yang ga boleh gitu .. denger2 bawa indomie aja ga boleh ya ??
    tolong bales ya , penting nihh .. thx

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: